SD Islam

Dalam tahap awal perkembangan, Yayasan Daarul Ilmi memprioritaskan pendirian Sekolah Dasar Islam (SD Islam) Daarul Ilmi Depok pada tahun pertama berdirinya Yayasan, yakni pada tahun ajaran 2014/2015. Penempatan skala prioritas ini didasari oleh perenungan bahwa SD merupakan pondasi bagi jenjang pendidikan selanjutnya, yakni SMP, SMA maupun jenjang perkuliahan. Pada fase ini, anak telah memasuki tahap perkembangan berpikir dari konkrit ke abstrak. Selain itu, secara emosional dan mental anak sudah mulai dapat memilah mana yang baik dan yang buruk (fase mumayyiz). Sehingga, kesalahan dalam mendesain bangunan kurikulum, bukan hanya berdampak pada ‘kegoncangan’ anak dalam belajar di level SD, namun juga akan membekas dan terbawa hingga dia dewasa. Itupun dengan asumsi bahwa yang bermasalah adalah bangunan kurikulumnya, bukan konten kurikulumnya. Maka dapat dibayangkan jika filterisasi atas berbagai konten bahan ajar tidak dilakukan, maka akal, pikiran, mental dan logika berpikir anak akan teracuni oleh berbagai materia yang mengandung kemaksiatan, syubhat, fitnah dan bahkan kekufuran dan kekafiran. Na’udzu billahi.

Untuk membangun sebuah SD Islam yang menjadi rujukan, selain sarana dan prasarana, kualitas kurikulum yang memadai, konten bahan ajar yang sesuai dengan tahap perkembangan anak serta metode belajar yang ramah anak; kunci keberhasilan tercapainya visi ini adalah tersedianya ustadz-ustadzah yang memadai secara kuantitas dan kualitas. Kebutuhan inilah yang coba dipenuhi oleh Yayasan Daarul Ilmi dengan melakukan seleksi, pembinaan dan monitoring dari para ustadz dan ustadzah yang direkrut dari LIPIA, STIA-Ali bin Abni Thalib, dan UI (umum). Dan dengan target minimal satu tahun satu juz, maka kriteria minimal yang digunakan adalah hafalan ustadz dan ustadzah harus lebih banyak dibandingkan target jumlah juz yang seharusnya dicapai siswa/i ketika mereka lulus SD Islam, yakni minimal 6 juz.